Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun, Semua yang mempunyai jiwa (ruh) akan kembali kepada Sang Penciptanya (AlKhalik), masih dalam hitungan hari dan bulan, secara beruntun orang2 berilmu mulai dari Kiyahi dan para Pejabat Negara telah berpulang kepada Penciptanya.Semoga amal bhaktinya mendapat balasan dan diampuni semua dosa2nya oleh Al-Ghaffar, serta keluarga yang ditinggalkan ichlas melepaskannya karena kematian adalah Hak. Kata Para kaum sufi, hidup bagaikan seorang musyafir, maka yang tidak memikirkan dan memanfaatkannya untuk beribadah dan berkarya baik akan merugi, pada saatnya akan kembali kepada Alkhalik, berhitunglah dengan waktu, waktu adalah penguasa yang tidak kenal kompromi, ketika sampai waktunya semua yang dilakukan akan menjadi terlambat dan sia-sia.
Ilmu merupakan salah satu instrument untuk amal perbuatan yang mendapatkan apresiasi tinggi dari Al Khalik, khususnya ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan, sehingga pahalanya tiada pernah terputus sampai dialam barsah.
Ketika terjadi perdebatan yang terkait kenaikan BBM bulan lalu antara para ahli, yang menarik perhatian bukanlah ilmuwan yang berpikir seperti alur pikiran umum (public), justeru yang diapresiasi adalah ilmuwan yang berpikir lateral/menentang arus, orang2 seperti itu pada era global semakin langka , apalagi diarena politik demokrasi yang cenderung berpikir untuk kepentingaan sesaat , pola pikir lateral dan visionir selalu berani berpikir dari sisi pendobrak, sehingga kadangkala sulit dipahami oleh public, perlu stategi dalam menyampaikannya kepada public, secara empiric bahkan hasil pemikirannya, baru diakui kebenarannya setelah sang pemikir dipanggil oleh Penciptanya. Contoh klasik dari pemikirVisioner & lateral adalah para Nabiulloh, antara lain yang paling dikenal Nabi Muhammad dengan wahyunya Nabi Yusuf dengan kebijakannya dalam menghadapi perubahan Musim di Mesir (Ekonomi), Nabi Nuh dengan Kapalnya (perubahan alam) dsb para filsuf dan penemu keilmuan serta para alim ulama dll
Ketokohan pemikir ini amat dibutuhkan dalam Pemerintahan , karena mereka menjadi pembaharu (agen perubahan) dengan mengambil langkah yang tidak populis namun bermanfaat pada masa depan bangsa agar tetap dalam Jati dirinya dan eksis dalam kehidupannya. Resiko mendapat tentangan dari public sangat besar, tapi dapat teratasi jika hasil pemikirannya dapat disampaikan secara komunikatif dengan public , sehingga diperlukan sarana informasi yang lengkap, tapi sayangnya lembaga Komunikasi yang dibentuk untuk menjelaskan kebijakan kepada public hampir disemua lini pemerintahan tidak optimal dan allout, cenderung sepotong2 dan tidak koordinatif serta tidak mampu memberikan jawaban yang diperlukan , akibatnya sangat membingungkan, yang berujung pada kepercayaan public. Lalu bagaimana mungkin di era informasi, pemerintah dapat mempunyai power jika Lembaga KOMINFO lemah dari berbagai segi, sarana, koordinasi, penguasaan masalah padahal Negara mempunyai segalanya.
Ada anekdot yang diceriterakan oleh seorang ilmuwan, sbb :
“ Ketika sebuah Kapal kecil penuh muatan, dihantam badai ditengah laut, semua penumpangnya panik, mereka membuang satu persatu bawaannya yang paling berharga, hanya seorang yang tetap tenang, sehingga ditanya oleh temannya, Hey, semua sudah membuang bawaannya kelaut tinggal kamu yang belum melakukannya, apa yang akan kamu buang, ia menjawab dengan tenang, kemudian mendekati seorang penumpang dari Indonesia, lalu dipegang lengannya inilah yang akan kami buang, karena di Malaysia semacam ini sudah banyak”. Anekdot ini telah ditarik oleh penulisnya karena dapat menghina Bangsa Indonesia, tapi apapun pemikirannya ini sangat menggelitik bagi bangsaku.
Pada bulan Mei ada hari-hari penting yang selalu diperingati, antara lain tanggal 1 Mei (Mayday) sebagai Hari buruh Internasional dan 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), secara berurutan 2 hari penting itu, bagaikan 2 sisi keping uang logam yang syarat makna kehidupan.
Pada masa lalu Bangsa Indonesia pernah mengirim semacam tenaga pendidik ke Malaysia. Dalam kurun waktu selanjutnya bangsa Indonesia justeru mengirim TKI yang sebagian besar buruh / PRT ke Malaysia,suatu keadaan yang antagonis, sehingga rasanya tidak salah jika para orangtua saudara kita dari Indonesia Timur, bertanya kepada Pemerintah mengapa anaknya harus ditembak oleh Polisi Malaysia, karena beliau memang tidak memahami peristiwa yang menimpa anaknya. ……..Ini bukan lagi anekdot, tapi fakta kehidupan yang perlu direnungkan sepenuh hati dan pikiran jernih oleh semua orang yang mencintai keluarga, masyarakat dan bangsa. Rasanya tepat pada momentum Peringatan HARDIKNAS yang berlanjut dengan HARKITNAS, yang diperlukan bukan lagi sekedar peringatan seremonial belaka, bukan lagi Unas dan kelulusan yang diributkan, NAIF RASANYA apabila output pendidikan yang telah menghasilkan banyak intelektual ini, tidak mampu memberikan nilai manfaat kepada lulusannya di berbagai tingkatan , mulai SLTA dan PT , apalagi kepada rakyat kecil untuk meningkatkan derajat kehidupannya di tingkat local dan regional sehingga dapat mengangkat harkat dan martabat kebangsaan.
Perputaran waktu pada era kini telah memaksa perubahan mindset hampir semua (belum seluruhnya) orang menjadi berparameter kehidupan materialistic/kebendaan (penyakit Al Wahn) yang menimpa segala lini kehidupan,mulai keluarga, masyarakat dan Lembaga Pemerintahan, dampaknya sangat luar biasa pada semua segi kehidupan masyarakat, termasuk pemerintahan. Wujud dan inplikasinya dapat dilihat dan dialami oleh semua orang diberbagai daerah dan lini kehidupan, namun semua pihak sulit menyadari dan menghindar dari cengkraman penyakit alwahn, sampai datang sang waktu untuk mengahirinya.
*Jucok wordpress.com”


