SELAMAT JALAN GUSDUR

Innalillahi wainna ilaihi rajiun, segala yang bernyawa akan kembali kepadaNYa,
Pada akhir tahun 2009, ini kembali Bangsa Indonesia kehilangan salah satu putera terbaiknya , K.H. Abdurrachman Wachid , mantan Presiden RI yang keempat , yang lebih dikenal panggilan Gusdur.

Gusdur sebagai orang Mukmin, yang telah lulus dari ujianNYA, dengan berbagai ujian duniawi yang dialami semasa hidupnya, namun tetap, tabah , konsisten / tawadduk , ichlas, kesederhanaan dan humoris meskipun dalam kondisi sesulit apapun dalam memperjuangkan kebenaran dan kemamfaatan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sehingga lahir joke-joke yang selalu dikenang oleh masyarakat, misalnya , ”Gitu aja kok repot” ungkapan itu kelihatan sepele, namun jika kita pahami mengandung makna yang dalam, jika Bp.Presiden SBY , dengan motto ” Harus Bisa” , namun Hakikatnya Gusdur justeru telah melaksanakan lebih dahulu dalam praktek hidup berbangsa dan bernegara dengan jokenya ” Gitu aja kok repot ” misalnya dalam menyusun Kabinetnya.

Ada sebuah Jokenya Gusdur yang dibukukan oleh seorang penulis , salah satu judulnya adalah ” Dilap celana dalam ”
Ceriterinya begini ” Ketika Gusdur kuliah di Mesir , Ia kedatangan tamu dari Indonesia, seperti biasanya seorang tuan rumah , Gusdur dan teman-temannya sibuk membuat jamuan sang Tamu, ketika sedang menunggu itu sang tamu secara tak sengaja, melihat Gusdur sedang mengelap piring dan gelas dengan celana dalam . Begitu kue dan minuman disajikan , sang tamu merasa serba salah, mau minum jijik , ditolak rasanya tidak sopan , kemudian dengan sangat terpaksa sang tamu menikmati hidangannya, namun tak berselang lama , ia muntah-muntah, karena ingat lap gelas dan piring yang dipakai Gusdur tadi.

Gusdur tanggap kondisi tamunya lalu berkata, ” Anda ini telalu melihat sesuatu dari segi luarnya saja tidak mau melihat sub stansinya ” sehingga si Tamu tertegun. , lanjut Gusdur, Celana dalam ini baru saya beli dan belum pernah dipakai , jadi masih baru, karena tidak ada lap disini terpaksa aku menggunakannya., kata Gusdur sambil tertawa.

Demikian Gusdur muda , Kini Beliau telah tiada Semoga amal kebaikannya didunia menjadi amal jariyah dalam alam kehidupannya kini, dan segala kealpaannya di ampuni oleh Al Khalik , Amiinn

Surabaya, 31 Desember 2009
Jukok wardpress.com

EMTRI ( M 3 )

Jika Immanuel Kant dan pakar hukum lainnya ratusan tahun yang silam sulit memberikan definisi yang sama terhadap pengertian hukum, dan keadilan yang dikemukakan oleh Plato dan Aristoteles, maka pakar hukum positive mengalami kesulitan yang sama untuk dapat mengakomodir norma hukum dan keadilan dalam satu pasal tertentu, sehingga sering dijumpai dalam praktek pengadilan hanya masalah ketertiban dan kepastian hukum belaka yang dirasakan masyarakat, meskipun tujuan hukum juga untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat . Hakikat hukum dan keadilan ini sulit dipahami oleh masyarakat umum , sehingga muncullah berbagai reaksi dari masyarakat misalnya Kasusnya ” Bu Prita dengan RS Omni ” , Kasusnya ” si Gadis Penjual Bebek di pasar Pabean Surabaya, karena ketidak tahuannya terperangkap dalam perkara Trafiking, sehingga di vonnis 3 tahun pernjara, dibanding dengan perkara Bos Narkoba yang divonnis 1 tahun penjara karena kelihaiannya dalam berperkara atau kasus pencurian yang vonnisnya dirasakan masyarakat tidak memenuhi rasa keadilan.

Dalam kejadian yang paling populer, adalah ” Peristiwa dalam pertandingan sepakbola dunia , dengan gol Tangan Tuhan Maradona atau Gol nya Henry ke gawang Kesebelasan Irlandia baru ini , yang didahului dengan hands ball, namun FIFA lebih tunduk pada azasnya Von Feurbach dan mengesahkan hasil pertandingan , dari pada memenuhi rasa keadilan masyarakat Sepakbola, yang mengharapkan adanya sanksi serta menganulir golnya Henry, sehingga seharusnya ada tanding ulang, ” disini nyata sekali bahwa hukum positive yang berlaku hanya mampu untuk menjaga kepastian hukum dan ketertiban , disisi lain keadilan menjadi terabaikan, Namun masyarakat sepakbola dunia konsisten terhadap azas legalitasnya, sehingga tidak ada anjuran atau provokasi untuk melakukan gerakan moral melalui unjuk rasa , guna menisbikan hukum yang berlaku.

Pada era perubahan, dengan kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk dan multikultur ini potensi terjadinya konflik semakin tinggi , karena perubahan tentu tidak selalu menguntungkan semua pihak, , sedangkan peluang mendapatkan akses ekonomi / kesejahteraan semakin kecil, persaingan semakin meningkat , illustrasi kehidupan ini bagaikan sedang berlalu lintas dijalanan yang macet, dapat kita bayangkan seandainya tidak ada yang mengatur lalu lintas dalam suatu keramaian kota, apa yang akan terjadi ? Kebutuhan masyarakat akan ketertiban, kepastian dan keadilan, berbanding lurus dengan tingkat kemajuan dibidang lainnya, semakin modern kehidupan masyarakat semakin tinggi kebutuhan terhadap pelayanan hukum dan keadilan Namun faktanya pada saat ini, masyarakat dalam wilayah Kabupaten/Kota yang terkait dalam berbagai kasus perkara, baik berat maupun ringan (rol) hanya dapat dilayani melalui lembaga peradilan yang hanya berada diibukota , sehingga dapat dipahami apabila penyelesaian perkara- sampai berlarut – larut oleh karena itu hukum dan keadilan menjadi barang luck bagi mayarakat kecil .

Sulitnya beracara dalam hukum dan semakin kompleksnya permasalahan hukum dan keadilan bagi masyarakat, masyarakat semakin apriori terhadap penyelesaian perkara secara hukum sehingga direspon oleh masyarakat dalam 2 (dua) bentuk aksi ;
1. Masyarakat kecil merefleksikan ketidak puasan mereka terhadap institusi atau okknum penegak hukum itu sendiri dengan melakukan ”Peradilan Jalanan
( Dark Justice)” seperti mengadili pencuri dengan caranya sendiri , yang dianggap memenuhi rasa keadilan bagi mereka, yakni dengan dibakar atau dihabisi ramai ramai, sedangkan dalam bentuk pelecehan melalui ucapan misalnya KUHP.
2. Anggota masyarakat yang punya bakat melobi memandang kesulitan untuk beracara hukum ini merupakan peluang, sehingga muncullah kreativitas dengan inspirasi pekerjaan ’Makelar dalam Hukum Perdata yang legal (KUHD)” , bedanya EMTRI dalam prakteknya justeru menimbulkan kesenjangan dalam pelayanan hukum bagi pencari keadilan.

Dalam operasionalnya Makelar ini berjalan secara bertahap, sehingga dikenal dengan M3 atau 3 M yakni ;
1. MARKUS (Makelar Kasus), itu berjalan ketika seorang mulai berhubungan dengan masalah hukum, dan kasusnya sedang diselidiki, muncullah si Markus artinya mau masuk dalam perkara yang ringan atau berat dakwaannya.
2. Ketika kasusnya sudah masuk penyidikan atau seseorang akan masuk Tahanan , maka muncul lagi yang namanya MARHAN (Makelar Tahanan), artinya mau yang enak atau yang bau ruang tahanannya.
3. Setelah perkaranya masuk ke Pengadilan, muncul lagi MARKUM (Makelar Hukum ) artinya mau bebas murni atau bebas bersyarat atau ringan dan berat hukumannya.

Makelar ini sudah menjadi rahasia umum dikalangan masyarakat pencari keadilan , namun secara faktual baru terexpose dalam Kasusnya Anggodo

Kebutuhan akan pelayanan hukum & keadilan idealnya sebanding dengan ”pelayanan prima” dibidang lainnya, mudah, murah sehingga masyarakat dengan cepat mendapatkan kepastian, ketertiban dan keadilan dengan Motto ” Jika dapat dipermudah mengapa harus dipersulit ” , Jika hukum dapat memberikan keadilan , mengapa hanya diberikan kepastian dan ketertiban belaka.”Insya Alloh, dengan mempermudah pelayanan dan memperbaiki kualitas peformance institusi serta penegak hukum, maka dengan sendirinya akan mempersempit ruang gerak makelar-makelar ini dan secara perlahan akan habis sendiri.

Surabaya, Desember 2009
Jukok wardpress.com

DRAMA KEBANGSAAN

Didalam diri manusia terdapat kekuatan endogen yang dapat menjadi faktor pendorong seorang dapat menjadi jujur, ichlas, sabar dan hal-hal yang baik lainnya, faktor tersebut adalah rasa kasih sayang atau cinta,  Cinta merupakan interaksi  seluruh indera manusia , yang keluar dalam wujud penglihatan, perkatan dan perbuatan, semua menyatu dan seiring, tidak ada perwujudan antagonis dalam setiap geraknya, menurut kamus Purwadarminta pengertian cinta adalah, ”selalu teringat dan terpikir di hati , lalu berarti…….” ...cinta dapat menimbulkan harmonisasi dalam kehidupan setiap pasangan, keluarga, masyarakat dan bangsa ;

Syahdan ketika cinta dua sejoli telah berlabuh dalam pernikahan, Kehidupannya sangat indah dan mengesankan, sehingga ketika sang isteri terpeleset waktu berjalan bersama, respon sang suami luar biasa perhatiannya,..dia akan bertanya dengan perasaan khawatir  sayang,.. tidak apa-apa kamu”.. sambil memegangi tubuh sang isteri . Kini setelah masa cinta kasih itu berlalu, terhimpit dengan berbagai problem kehidupan yang serba keras , maka  mulailah rasa indah semakin menjauh , ketika peristiwa puluhan tahun itu terulang kembali, tiada  lagi muncul kata indah dari sang suami , namun kata umpatan yang menyakitkan ” Dimana mata kau .”

Demikian halnya dengan sumpah pemuda tahun 1928 lalu, semua perbedaan tertutup dengan rasa cinta tanah air , bangsa dan cita-cita merdeka, sehingga  yang muncul nilai-nilai Pengorbanan, Kebersamaan dan Kekeluargaan , tanpa memandang siapa kamu, siapa aku, semua dalam kesederajatan, tanpa merendahkan martabat masing – masing, … kemudian sumpah setia itu diwujudkan dalam proklamasi kemerdekaan dengan harapan mencapai kehidupan yang adil dan sejahtera…..Setelah puluhan tahun kemudian datanglah era globalisasi yang merupakan   proses perubahan dunia yang menimbulkan kompleksitas problem yang tidak bisa dihindari, oleh negara manapun,  kini secara faktual,  kemajemukan telah menjadi akar konflik yang selalu muncul dalam menyikapi setiap perbedaan.

Perubahan sosial budaya dan politik secara realitas telah melahirkan budaya hybrid, dalam kehidupan masyarakat,  sesuai tingkatan intelektualitasnya, dampaknya dapat dilihat  diberbagai daerah melalui media masa, antara lain ;

1. Perkelahian masal antar warga desa, kelompok pemuda, pelajar dan mahasiswa, apapun alasannya awalnya tentu masalah perbedaan pandangan, wawasan dan kepentingan yang berakhir menjadi konflik.

2. Unjuk rasa  atas nama demokrasi (liberal) dan kebenaran serta keadilan , dengan pola pasar,  karena semakin banyak peserta yang ikut unjuk rasa dianggap semakin kuat alasan pembenarannya, menurut mereka kebenaran dan keadilan hanya ada didalam masyarakat meskipun disatu sisi menciderai keadilan itu sendiri , karena telah mengecilkan kepentingan masyarakat yang lain serta  menafikan nilai – nilai yang hakiki, dari Sang Pencipta.

3. Para elite (Mahasiswa, LSM, Pemerintah dan DPR) bersilang pendapat dan kepentingan   yang dapat disaksikan di berbagai media  oleh seluruh masyarakat Indonesia bagaikan drama seri  kebangsaan ,ada yang berperan sebagai  pembela rakyat sejati, ada yang berperan pahlawan anti korupsi, ada penerus reformasi dan kebenaran. , nilai-nilai budaya bangsa yang religius telah melebur menjadi semangat individualisme yang membawa kebebasan, persamaan dan persaudaraan (kelompok) serta Hak Azasi Manusia (HAM), semua menjadi serba hybrid.

Demokrasi telah dijalani dengan biaya yang cukup besar , rakyat didaerah berpartisipasi waktu dan tenaga dengan harapan agar masa 5 tahun kedepan kondisinya  akan lebih baik.

”Kata Sesepuh Bangsa  Demokrasi hakekatnya adalah perbedaan, mereka mengumpakan seperti orang memasak, tentu ada unsur, beras, air, api , tungku, kayu/minyak, semua punya fungsi masing-masing, unsur-unsur itu akan  saling merusak jika tidak dikendalikan, karena tujuan utamanya adalah memasak beras agar menjadi Nasi yang dapat dimakan bersama, bukan saling menghanguskan satu sama lain sehingga menjadi arang.”

Rakyat kecil tentunya  prihatin melihat kondisi kebangsaan pada  saat ini, karena setelah proses Pemilu selesai dan semua kelembagaan telah diisi malah  bukan Program pembangunan perbaikan nasib rakyat yang dilakukan pertama kali, justeru  perselisihan antara Institusi Kepolisian, Kejaksaan dan KPK serta DPR dalam masalah Korupsi, yang hakekatnya masih merupakan kepentingan  para kaum elite itu sendiri, dengan blow up untuk kepentingan rakyat kecil , agar jalan ceriteranaya menjadi seru., bahkan permasalahan tersebut telah berkembang dari masalah kewenagan istitusi, kriminalisasi , hukum, Markus,  kemudian arahnya semakin kuat menuju kearah  politik, dan person, sehingga timbul kondisi yang tidak kondusip di dalam Negara dan saling menghujat, memfitnah sehingga timbul perselisihan yang mengarah kepada konflik,  Jika kehidupan berbangsa ini di ibaratkan menumpang sebuah Kereta Api (KA) maka kereta yang menyenangkan penumpangnya adalah Kereta Api yang tidak berisik  dan tidak banyak getaran , namun larinya kencang sehingga sampai ditujuan lebih cepat dan  selamat.

Alangkah Aripnya jika  semua kaum elite yang tidak terkait langsung dengan masalah maupun yang terkait ,lebih mampu menahan diri, sehingga punya prinsip  ” Lebih baik diam , jika tidak dapat berkata baik .” karena  banyak orang tahu , tapi sebenarnya tidak tahu, kata jukok ” Let not your tongue cut your throat,” agar tidak terjadi fitnah dan konflik yang  berkepanjangan serta  menyakitkan satu sama lainnya.

Secara empirik (  menurut sejarah ),  salah satu sebab musnahnya suatu bangsa ( kaum ) karena banyaknya perselisihan diantara mereka, yang mengakibatkan kehilangan banyak  kekuatan untuk membangun, . bagaimana mungkin , jika masyarakat di berbagai daerah  mulai kehilangan kepercayaan kepada Institusi Pemerintah, karena ulah para elite itu sendiri.(ribut melulu)

Believe it or not ” Wallohua’lam,

Negeri ( kota ) yang banyak dihuni oleh masyarakat yang mulai kehilangan  budaya hati dan senyum (kehilangan jati diri bangsa)  menjadi budaya  menuhankan pikiran , materi dan kekerasan (Individu) sering menimbulkan perselisihan diantara mereka , saling menghujat , mendendam, memfitnah, Semoga Allah seru sekalian alam,   masih berkenan memberikan petunjuk dan melindunginya, khususnya bagi orang-orang yang beriman , berakhlak dan beramal baik untuk dirinya dan masyarakat.

Surabaya,     Desember  2009

Jukok.word press.com

REFORMASI SEJATI

Ketika suara takbir berkumandang dari tempat-tempat Ibadah kaum muslim , sebagai pertanda bahwa  bulan ramadhan sebagai bulan istimewa bagi umat Islam telah berakhir dengan hari kemenangan, yakni hari raya / lebaran idhul fitri. Keistimewaan bulan ramadhan ini dapat kita lihat / rasakan dari berbagai dukungan dari Umarah / Pemerintah maupun Sang Maha Pencipta sendiri (Alkhalik) antara lain :

Fasilitas istimewa yang diberikan pemerintah agar kaum muslimin dapat tenang dalam beribadah di bulan ramadhan    berwujud  :

-   Penyesuaian jam kerja kantor-kantor pemerintah  ;

-   Pengaturan penjualan makanan di siang hari

-   Penutupan tempat-tempat hiburan malam

-  Peningkatan keamanan dan ketertiban  untuk menjaga ketenangan masyarakat dalam beribadah  dan sebagainya yang terkait dengan ketentraman masyarakat  ;

Fasilitas istimewa yang diberikan oleh Alkhalik berwujud   ;

-          Segala amal perbuatan ibadah di bulan ramadhan dilipatgandakan pahalanya  ;

-          Ditimbulkan rasa tentram dalam hati  ketika berbuka.

-          Ditimbulkan rasa tentram dalam hati ketika  berkumpul dimesjid/ mushallah/suraw/langgar untuk melakukan ibadah.

-          Bonus dan Diskon Akbar pada sepuluh malam terakhir dimalan bulam ramadhan bagi  yang mampu meningkatkan amal ibadahnya ;

-          Diampuni segala dosa dosanya, sehingga kembali menjadi fitrah

Keistimewaan ini masih berlanjut pasca ramadhan, ada fasilitas / kebijakan istimewa dari pemerintah/swasta antara lain ;

-   Pemberian THR bagi karyawan swasta dan pemerintah sebelum hari lebaran ;

-   Penyaluran Zakat difasilitasi agar tidak menimbulkan musibah kemanusiaan ;

-  Penjualan dan pembakaran petasan dilarang karena mengganggu ketentraman dan ketenangan dimesjid –mesjid ketika melakukan ibadah serta keselamatan masyarakat pada umumnya

-   Menyiapkan angkutan yang murah dan nyaman  bagi masyarakat yang akan pulang kampung untuk bersilaturrahmi dengan sanak saudara ;

-  Menjaga keamanan dan ketertiban sepanjang jalur angkutan umum masyarakat pemudik maupun arus baliknya ;

-   Memberikan layanan istirahat , bantuan servis kendaraan, pengawalan  dsb, agar masyarakat sampai tujuan dengan aman dan selamat.

-  Menjaga jalur – jalur kereta api sebagai angkutan umum pemudik dan sebagainya.

Sehingga tiada ucapan terimakasih  yang paling tepat untuk  mengiringi kepergian bulan istimewa ini, kecuali dengan menyebut namaNya ALLOHU AKBAR-ALLOHU AKBAR ,ALLOHU AKBAR :

Jika direnungkan kembali, puasa bulan ramadhan bagaikan  sebuah Diklat Khusus bagi kaum yang beriman kepada Alkhalik  untuk melatih diri atau menahan diri dari segala nafsu duniawi, yakni  melakukan ritual fisik dengan  menahan diri dari segala hawa nafsu  yang bersifat duniawi, serta dapat mewujudkan ritual batin untuk memahami hakekat kemanusiaan, sehingga akan dicapai hati yang taqwa.

Dengan dukungabn fasilitas yang luar biasa , tentunya secara logika Diklat Khusus ini lebih dekat dengan keberhasilan ketimbang kegagalannya, sehingga akan terjadi reformasi diri pada setiap invidu muslim  yang akhirnya sangat berimplikasi terhadap harmoni hidup dalam keluarga, Masyarakat dan bahkan Pemerintahan/ Negara.

Setelah masing-masing individu muslim kembali keaktivitasnya semula , idealnya tak perlu lagi yang harus dirkawatirkan, dan tak perlu lagi   ada ancaman pecat – memecat bagi yang tidak berdisiplin, bagi mereka yang berhasil dalam Diklatnya akan mampu menghadirkan Alkhalik  dalam setiap perbuatannya, karena diklatnya/ puasanya benar-benar ukntukNya , sehingga tidak hanya kejujuran saja yang melandasinya namun juga tanggung jawab terhadap segala aktivitasnya.

Rasa takut dan kawatir seperti yang ada pada media masa dengan judul Cecak melawan Buaya, tidak akan pernah terjadi , sepanjang Diklat ini berhasil dicapainya, karena yang menentukan kemenangan perang  hari ini bukanlah jenis senjatanya, tapi orang yang dibelakang senjata itu sendiri, sehingga para pakar tidak akan semua jadi dipersukar, melainkan akan menjadi instrumen kebaikan yang menghilangkan segala sak wasangka. Semua dalam rangka mematuhi / mengaoptimalkan Supremacy of the law  atau equality of the law. kenapa harus berangkat dengan hati yang selalu curiga, takkan lari gunung dikejar kalang kabut tampaklah dia, kebatilan akan selalu tampil beda dengan kebaikan. Marilah kita tunggu bersama aktualisasi hasil diklat khusus ini dalam kehidupan masyarakat dan pemerintah.Wallohua’lam,

Jukok, WordPress.com

Surabaya    September 09

MARBISPOL (MARKETING BISNIS DAN POLITIK)

Mungkin dalam waktu senggang anda pernah menonton advertensi CoccaCola atau Parfum AXE pada acara TV, itu semua merupakan produk inport., yang kita perhatikan bukan masalah produknya, tapi model dari advertensinya untuk mempengaruhi customer (pelanggan), iklannya lebih banyak bergerak/ beraktivitas ketimbang obral kata-kata, namun pikiran pemirsa diajak untuk bertamasya kealam logika, sehingga dalam setiap benak pemirsa akan mempunyai arti yang berbeda, sesuai dengan tingkat emosionalnya, mungkin bagi masyarakat pembeli tertentu ini sulit dimengerti namun bagi masyarakat kota , advertensi ini sarat dengan pesan-pesan yang kuat untuk mengajak pemirsa membuktikan kwalitas produknya, sehingga masyarakat terpikat untuk membelinya, atau sebaliknya, tergantung dari kondisi dan wawasan masyarakatnya.. karena disamping itu masih ada masyarakat, dalam memasarkan produknya/ barangnya melalui upaya Irrasional, misalnya , pergi kedukun atau orang pintar untuk minta aji-aji agar dagangannya laris dan pesaingnya tidak laku, itulah fakta dalam masyarakat, mengapa tidak? , kata mereka di bidang edukatif pun ada persamaan Irrasional dalam pelajaran matematika , dalam dunia bisnis yang besarpun juga masih terdapat acara ritual- tertentu ketika memulai bisnisnya..

Dalam masyarakat Indonesia yang multikultur, hal yang demikian sudah jamak, meskipun kurang rasional, juga cara –cara berkomunikasi berbeda, orang melayu suka berpantun, orang jawa senang dengan kiasan (tidak lansung) sedang orang Bugis, lebih suka to the point (langsung). Ketika kultur yang berbeda ini dipakai dalam kampanye politik diluar wilayah asal kultur, responnya menjadi kontra produktif, karena perbedaan persepsi dalam berkomunikasi, akan dijadikan momentum yang tepat untuk membelokan maksud yang sebenarnya, guna menurunkan citra lawan politiknya dan sekaligus merebut simpati pemilih. Sehingga pemimpin lembaga yang bersifat keagamaan yang berfungsi sebagai persatuan umat ,tidak mau ambil resiko, malah secara vulgar mengajak anggotanya untuk mendukung salah salah satu Capres tertentu, karena ia sudah terlibat langsung dalam politik praktis..

Untuk melindungi consumen / pembeli / masyarakat dari mengkonsumsi produk yang kualitasnya kurang bagus, ada lembaga Consumen Indonesia dan Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan ( BPOM), yang berfungsi melindungi masyarakat, meskipun hasilnya kurang efektif , sehingga masyarakat harus mempunyai wawasan / pengetahuan dan pengalaman sendiri untuk mengenali suatu produk dengan baik, demikian halnya dengan Pemilu , masyarakat dituntut kemandiriannya dalam memilih Pimpinannya, sehingga mereka perlu merujuk kepada nilai-nilai moral kehidupan bermasyarakat , berbangsa dan bernegara, antara lain “ ACHLAQ DAN KEMANFAATAN “ yakni ;

1. Salah satu Pemimpin Dunia pernah mengatakan “ Bahwa aku datang ( diutus) hanya untuk memperbaiki achlaq manusia.”
2. Sebaik-baik manusia diantara kalian adalah yang membawa manfaat bagi yang lainnya

Wallohu a’lam , semoga yang terbaik dari yang baik , akan muncul sesuai proses alam.

Surabaya, 5 Juli 2009.
Jukok wordpress.com

CERDAS MEMILIH ATAU MEMILIH DENGAN CERDAS. ( CM atau MC)

Seruan atau slogan-slogan yang menganjurkan agar masyarakat Cerdas Memilih (CM) atau Memilih dengan Cerdas (MC), jika melihat realitanya, tidak sesedarhana itu dalam pelaksanannya, hal tersebut disebabkan ;


1. Jumlah Parpol dan Calegnya banyak, belum dikenal flat form dan kualitasnya oleh masyarakat ;

2. Sistim pelaksanaannya berbeda dengan sebelumnya ;

3. Sosialisasinya kepada masyarakat minim sekali ;

4. Merujuk pengalaman sebelumnya masyarakat merasa pernah salah memilih, ketika hasil pilihannya tidak sesuai harapan karena terlibat KKN maupun perbuatan tidak baik dimata publik ;

5. Anjuran / slogan tersebut bersifat warning / peringatan terhadap masyarakat agar jangan salah pilih atau jangan asal pilih ;

Cerdas dalam pengertian kamus, adalah sempurna perkembangan akal budinya, pandai, tajam pikirannya dsb, dalam Peguruan tinggi, dilambangkan dengan lulus IP minimal 3 , sehingga User sebagai pengguna akan memilihnya karena kapasitas otaknya besar, dikonotasikan mempunyai kreativitas yang tinggi dalam memecahkan berbagai problem.


Memilih adaalah melakukan tindakan memihak, atau menentukan pilihan, diantara beberapa pilihan ;


Cerdas Memilih

mencakup pengertian ;

Mengenali, Meneliti, Menilai, Mencermati, Membandingkan dengan realitanya, Memutuskan, dan akhirnya menentukan pilihan yang terbaik.


Memilih dengan Cerdas,

adalah menentukan pilihan sebelum hari ”H”nya, karena adanya hubungan emosional, karena sebelumnya telah mengenal baik Caleg maupun Parpolnya, atau karena janji-janji dan iming-iming lainnya, tapi sebagian masyarakat telah belajar dari hasil pilihan sebelumnya, sehingga tetap realistis dalam menentukan pilihannya.

Cerdas memilih atau Memilih dengan cerdas, meskipun cakupan pengertiannya berbeda, tapi sasarannya sama dan mempunyai maksud, tujuan dan kosekwensi sbb ;


1. Maksudnya masyarakat diajak untuk berpikir sebelum memilih dengan cara ;

a. Mengenali pilihannya dulu , jika sudah kenal bagaimana track recordnya dalam memperjuangkan kepentingan rakyat ;

b. Apabila masih belum dikenali, bagaimana flat form parpolnya ;

c. Jika Parpolnya baru, dicermati bagaimana pribadi calegnya,

d. Jika Parpol dan Calegnya baru , dicermati lagi bagaimana janji-janji/ konsep/gagasan yang akan dilakukan pada saat kampanye , realistis atau cuma promosi belaka.


2. Tujuannya :

a. Menghasilkan anggota Lembaga Legialatif dan Ekskutif yang berkualitas ;

b. Meningkatkan kinerja yang lebih memihak kepadaa rakyat daripada Kelompok/Golongan / Parpolnya.


C.Konsekwensinya ;

a. Masyarakat semakin pintar dalam memilih ;

b. Masyarakat tidak menggunakan hak pilihnya karena merasa belum mengenal parpol dan calegnya , sehingga takut salah memilih ;

c. Masyarakat bersifat praktis, mana yang dianggap menguntungkan secara materi pada saat itu , maka itulah pilihannya.

Kinerja Dewan bersama Pemerintah cukup produktif dalam menerbitkan Peraturan Perundangan selama era reformasi ini, namun lemah dalam aplikasinya, bahkan yang justeru banyak terjerat pedang bermata dua (hukum) banyak dari oknum Aparat (Pemerintah dan Dewan).


Pemilu kedua setelah Reformasi ini, akan menjadi tolok ukur bagi masyarakat, jika hasil pilihan caleg kali ini mampu menghasilkan wakil-wakil rakyat yang berkualitas, sehingga dapat memperbaiki kinerja dan citra Lembaga Legislatif, maka perjalanan demokrasi selanjutnya menjadi lebih baik, atau sebaliknya.


Mungkin kedepan pemerintah telah melakukan pengkajian untuk penyederhanaan pelaksanaan demokrasi langsung ini, agar lebih efisien dan efektif khususnya dari segi pendanaan dan outputnya yang dihasilkan akan lebih baik, dengan pemikiran bahwa demokrasi Indonesia adalah Demokrasi Pancasila yang mempunyai nilai-nilai kebangsaan yang tinggi/religius, sehingga dalam mencari dukungan massa tidak mudah terinfirasi dengan pola demokrasi liberal, oleh sebab itu ; STOP DEBAT POLITIK, yang tidak bermanfaat apa-apa, karena memang belum berbuat apa-apa kepada rakyat, STOP STATEMEN yang mengarah kepada konflik, STOP EKSPLOITASI kondisi buruk masyarakat untuk kepentingan politik , Cara INKOGNITO dalam kehidupan rakyat, akan lebih bermanfaat dari pada kunjungan kerja dengan segala fasilitas eksklusifnya (baju kebesaran) membuat rakyat enggan/segan mendekat. Mendengar suara rakyat kecil yang dianggap bodoh tapi punya kejujuran lebih bermanfaat dari pada hanya memberi Instruksi saja.


Suara rakyat adalah suara Tuhan ( vox populi vox dei ) meskipun tidak sepenuhnya benar, karena didalam suatu komunitas /masyarakat/ bangsa telah terjadi pergeseran nilai, yakni dari peradaban hati dan senyum (akhlak) telah berubah keperadaban akal, materialistik dan kekerasan/kekuatan, sehingga penilaian baik dan buruk menjadi relatif didalam masyarakat,… jika demikian halnya maka apa yang menjadi prediksi utusan Almalik akan menjadi kenyataan , bahwa pada saatnya akan terjadi konflik dan perpecahan karena nilai-nilai ketuhanan banyak diabaikan.


Terjadinya musibah silih berganti , terjadinya konflik diberbagai daerah, mungkin sudah saatnya untuk direduksi kembali menjadi pertanyaan besar dalam kehidupan kebangsaan, Mengapa ? dan Bagaimana ?…. Sebelum semuanya terjawab , maka sebagai bangsa yang berketuhanan perlu merujuk kembali kepada petunjuk/ peringatan Alkhalik dalam firmannya bahwa ”…” berbantah-bantahan akan menyebabkan gentar dan hilang kekuatan (hanya menghabiskan energi yang sia-sia)”

serta pesan-pesan akhir UtusanNya dalam sabdanya bahwa ” meninggalkan debat berkepanjangan akan lebih baik dan lebih dekat kepada penciptaNYA ” lebih lanjut Beliau berpesan…dan janganlah kalian berselisih (memperbanyak konflik), karena sesungguhnya umat sebelum kalian telah berselisih, lalu mereka binasa

Akhirnya ……… apa yang dihasilkan dalam Cerdas Memilih atau Memilih dengan Cerdas, sangat berkorelasi dengan kondisi psichis/ jatidiri kebangsaannya, antara pemilih dan yang dipilih harus mempunyai nilai Ketuhanan yakni, ichlas, jujur, amanah, cerdas dan bertanggungjawab dan siapapun yang terpilih nantinya tentu harus dihormati

dan dipatuhi amanatnya, karena realiatanya merekalah yang terbaik pada sat ini.


SELAMAT MEMILIH, GENERASI MUDA DAN JANGAN GOLPUT, KARENA TANGAN DIATAS LEBIH BAIK DARI PADA TANGAN DIBAWAH, 2O TAHUN NANTI ANDA SEKALIAN YANG AKAN DIPILIH, KARENA ITU BELAJARLAH DAN BELAJAR TERUS SAMPAI MENEMUKAN JATIDIRIMU SEBAGAI BANGSA INDONESIA YANG SEJATI.

Surabaya, 2 April 2009 .

Jukok.wordpress.com

Nurani yang terbelenggu

Happy new year, Ketika semua orang dipelosok negeri berharap bahwa hari esok lebih baik dari hari ini, sambil mengekspresikan berbagai suka dukanya dimalam tahun 2009, tidak demikian halnya yang terjadi di Gaza negeri Palestine, idealisme perubahan untuk sebuah kemerdekaan umat manusia , demikian tinggi nilainya, karena yang terjadi hanya bisa diukur dari nurani kemanusian yang paling dalam, rasa sakit, marah, ketakutan, rasa bersalah berkecamuk, para lelaki menyesali diri merka , mengapa , tangan-tangan mereka tidak mampu lagi melindungi keluarganya dari kekejaman tangan-tangan manusia terkutuk, beginilah culikannya.
Gaza- Infopalestina : ”Darah mengalir dari seluruh tubuhnya, setiap kali demamnya terus meningkat dan suara kesakitan terus meninggi, ibunya menangis perih, Saudara perempuannya meratap keras, menghubungi stasiun radio lokal, yang lain memanggil palang merah, yang ketiga menyeru mobil-mobil ambulan…. dan yang kesepuluh meminta-meminta organisasi HAM , .. jawabannya hanya satu kalimat, ; sayang sekali, kami tidak bisa sampai ketempat kalian …. maapkan kami,…. . itulah kira-kira suara hati setiap manusia dimuka bumi ketika kekejaman terjadi, namun kita tidak bisa berbuat banyak.
Peperangan ini bukan lagi peperangan antara kaum muslim dan yahudi, naif sekali, karena kaum muslim bagaikan buih diatas lautan jumlah banyak namun tidak mempunyai kekuatan untuk menolong saudara sesama muslim, astaghfirullah, prediksi seorang Rasul menjadi bukti atas kebenaranNYA.
Peperangan ini merupakan kejahatan terhadap nyawa manusia, Hak Azasi Manusia, umat manusia diseluruh dunia melakukan protes keras, rasa kemanusian terluka, solidaritas mereka keluar dari sekat-sekat negara, batas-batas wilayah dan media masa, mereka menghendaki perang dihentikan detik ini juga, jangan lagi ada nyawa yang sia-sia dimakan nafsu angkara murka.
Peperangan ini merupakan perang antara penganut peradaban kuno dan hukum rimba, yang mencari keadilan dan pembenaran melalui kekuatan dan nafsu , melawan penganut peradaban modern yang lebih mengutamakan kedamaian dalam mencapai keadilan, perang hanya jalan akhir yang tersesat.
Perang merupakan ” market promotion ” bagi pencipta alat-alat pembunuh manusia yang canggih, perang merupakan investasi bagi industri mesin perang mereka, perang merupakan pelampiasan nafsu superior mereka terhadap yang lemah, kata perang hanya keluar dari pikiran dan mulut mereka yang sedang memerintah, karena hati nurani telah terbelenggu oleh nafsu dan tertutup oleh ketamakan kekuasaan, tidak akan pernah ada kata perang yang keluarnya dari suara rakyat, kecuali mereka tertindas, yang dapat menghentikan perang di Palestine hanya 2 orang Kutukan Ilahi yakni Olmert dan Bush atau kematian orang orang Hamas yang tertindas.
Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) Sudah saatnya Susunan dan sistemnya dirombak, Hak-hak Veto perlu dipangkas, susunan keanggotaan direformasi untuk disesuaikan perubahan masyarakat dunia, perubahan ini perlu perjuangan dari Negara-negara yang cinta damai sebagai pendukung peradaban dunia baru yang menjungjung Hak-Hak Azasi Manusia (HAM), taat kepada Hukum International.

Pemerintah-pemerintah Arab, telah membiarkan saudaranya, tertindas, mereka hanya dapat berunding dan berunding dari hari ke hari, sedangkan mayat –mayat berjatuhan dari jam ke jam, mereka tidak mampu / konsisten menolong saudara-saudaranya sampai pada hitungan mayat yang ke 1.000 (seribu), mereka telah melupakan ancaman sang Pencipta, ” bahwa mereka akan kehilangan pertolonganNya kelak pada kehidupan yang lain”, mereka sudah termasuk kasta yang paling rendah dihadapan sang Pencipta, karena tangannya tidak mampu lagi mencegah perbuatan keji dan mungkar yang terjadi dihadapannya.
Pemerintah-pemerintah Arab secara faktual boleh kalah dengan kekuatan alat-alat perang AS dan Israel, namun mereka tidak menyadari bahwa segala mesin perang milik musuhnya hakekatnya dijalankan oleh minyak (bahan bakar) yang berasal dari mereka, kalau mereka konsisten , bersatu dan mempunyai keberanian serta kecerdikan sebagai pejuang, pembantaian hari ini tidak akan pernah ada. Sehingga perang hari ini hakekatnya merupakan dampak dari buaian kekayaan dunia yang melimpah di negeri Arab, sehingga mereka menjadi malas dan lupa pada arti kehidupan dunia bagi orang-muslim, Believe or not, masuklah dalam acara jambore pramuka dunia, peserta jambore yang datang dari negeri kaya (negeri-negeri arab), merka lebih malas dari yang lain.
Sebenarnya siapakah yang pantas di unjuk rasa oleh masyarakat muslim
Indonesia ? tentunya bukan hanya AS dan Israel, karena peperangan ini juga atas sepengetahuan Negara-Negara Arab lainnya, yang tidak menyukai model perjuangan HAMAS.

Surabaya, 14 Januairi 2009,
Jukok WordPress.com

2 sisi Keping uang logam

Sprotifitas merupakan sikap atau perilaku yang harus dimiliki dan dijunjung tinggi oleh para olahragawan, sehingga dalam pertandingan sepakbola untuk menjaga fairplay ini tetap berjalan dengan baik, maka ditunjuklah perwasitan, namun seorang wasit kebingungan ketika pertandingan akan dimulai, masing-masing Kapten Tim kesebelasan menghendaki tempat dan gawang yang sama untuk timnya, maka wasit mengeluarkan satu keping uang logam , kemudian meminta salah satu kapten tim untuk memilih, salah satu sisi keping uang logam, selanjutnya wasit melemparkan keudara, setelah jatuh dilihat sisi kepingnya, maka apabila sisi keping yang dipilih oleh kapten tadi dalam posisi diatas, maka ia memperoleh hak untuk memilih tempat / posisi kesebelasannya , barulah pertandingan siap dimulai.

Sepanjang pertandingan 45 menit pertama dan kedua, wasit akan berputar-putar dalam area lapangan berkisar 120m x 90m, berlari mengikuti arah bola yang digiring oleh rata-rata anak muda dengan akselarasi tinggi, pada suatu saat seoarang wasit yang rata-rata usianya lebih tua dari pemainnya, ketika terjadi freekic atau hands ball posisinya tidak berada pada posisi yang tepat (jauh) dengan pelanggaran yang dilakukan oleh seorang pemain, sehingga tidak jelas melihatnya , sedangkan penjaga garis yang ditugasi untuk membantu, wilayah tugasnya hanya dipinggir lapangan, dalam kondisi semacam inilah wasit wajib memberikan keputusan yang se-adil2nya dalam waktu yang relatif singkat , kemudian wasit dengan cepat mengumpulkan fakta-fakta dilapangan, dan keyakinan, maka dikeluarkan keputusan sesuai dengan aturan permainan, Namun celakanya setelah ditayangkan ulang dengan hasil rekaman kamera, ternyata tidak demikian kejadiannya / kebenarannya, ..namun semuanya telah diputuskan dan itu sah menurut aturan sepakbola.

Peristiwa semacam ini yang kadangkala terjadi dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat , antara lain bidang hukum / keadilan, misalnya dalam kasus sengkon dan karta pada tahun 1980an, yang kemudian terulang kembali setelah 28 tahun kemudian dalam kasus yang serupa, yakni kasus Asrori di Kabupaten Jombang, diluar negeri dengan sistim hukum yang berbeda namun idealisme yang sama yakni ” keadilan ” kasus yang menimpa TKW jember yang melahirkan seorang anak hasil kerabat bosnya di Arab Saudi, malah justeru di penjara, mungkin masih banyak kasus-kasus lain yang telah terjadi maupun yang masih akan terjadi dengan masalah keadilan ini, kasus semacam ini menjadi bagian sisi yang gelap dari keadilan (dark justice) meskipun ada motto terkenal yang menegaskan ” Tegakan keadilan biarpun langit akan runtuh”,(let justice be done though the heavens fall) namun dalam realitasnya keadilan tidak selalu seiring dengan kebenaran, karena keadilan itu terlalu tinggi nilainya untuk dapat dicover dalam kaidah / pasal-pasal peraturan perundangan, kondisinya seperti misteri 2 sisi keping uang logam , antara benar dan salah hanya berada dalam sisi berhempit tanpa dibatasi ruang, sehingga dapat saja terbalik bagaikan sisi uang logam, akibatnya mottonya ikut terbalik menjadi ” meskipun keadilan tidak bisa tegak langitpun tidak akan runtuh”, kontroversi memperoleh keadilan ini, bagaikan pendulum jam yang tidak akan pernah berhenti, karena pendulum merupakan bagian penting yang menggerakan jarum kehidupan dan keadilan , keduanya akan terus berjalan bersama, sejalan dengan langkah perkembangan kehidupan masyarakat …. , hanya ada satu Hakim Agung yang dapat menghentikan pendulum jam, tepat ditempatnya (memperoleh keadilan yang se-adil2nya) dalam sidang pengadilan yang besar … yakni Hakim yang mengetahui setiap tangkai daun kuning yang jatuh kebumi tanpa lepas dari pengamatanNya….., keadilan hanya milikNYA, tak seorangpun dapat memperolehnya, sebelum nuraninya masuk dalam wilayah yang sangat berat untuk dicapai, yakni ”Ichlas” dalam setiap langkah perbuatannya.

Surabaya, 30 Nopember 2008

Jukok.WordPress.com

T 2 P Sebuah misteri garis tangan manusia

Tata surya selalu berputar menurut porosnya, bumi selalu setia mengelilingi matahari, timbullah kehidupan dijagad raya, tiada seorangpun yang tahu berapa banyak manusia yang sudah terlahir kemuka bumi, tak terhitung pula diantara mereka mampu mengubah wajah dunia, namun banyak pula diantranya yang terlahir kedunia tiada berbuat yang berarti, hingga sampai diakhir hayatnya terkubur diperut bumi, tapi tak setetes tintapun tergores dalam lembaran sejarah hidupnya, kehidupannya naif untuk memberikan arti dalam kehidupan lingkungannya , bumi akan menjadi saksi terhadap segala yang telah dilakukan, bagi seorang pejuang dalam kesulitan selalu melihat adanya peluang, sebaliknya bagi seorang pecundang selalu melihat kesulitan didalam setiap peluang, karena hakekatnya dalam kehidupan hanya terdapat dua pilihan, keyakinan wujud kemenangan sedangkan keraguan merupakan bentuk awal dari kekalahan (Bem Unair)

Ketika seorang meramal tulisan / garis telapak tangan , sebenarnya juga mengandung 2 fakta , antara fakta prediksi terhadap jalan kehidupannya (maya), dan fakta keyakinan (nyata) yakni bahwa yang menentukan masa depan manusia adalah segala hasil karya nyata dari tangannya yang akan menentukan nasibnya dimasa depan, keyakinan inilah yang mendorongnya untuk berbuat dan berupaya mencapai apa yang menjadi ideanya, (optimisme), sehingga tangan-tangan mereka digerakan dengan hati yang ichlas dalam segala lini kehidupan masing-masing

Pada bulan November 2008 di Jatim akan dilaksanakan putaran kedua Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur, dan pada bulan April 2009 akan ada pemilu yg memilih Presiden/Wakilnya dan anggota legislatif, pemilu tersebut merupakan suatu tahapan proses yang harus ditempuh untuk mencapai kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh warganya, sehingga partisipasi aktif warga untuk datang ke TPS setempat guna memilih merupakan suatu keharusan, karena yang menentukan masa depan masyarakat Jatim dan bangsa Indonesia adalah sangat tergantung dari hasil pilihan masing-masing individu, tingkat partisipasi masyarakat dalam Pilgub Jatim putaran pertama, dengan DPT = 29.063.285 jiwa, jumlah yang hadir ke TPS = 17.929.708 ( 61,69%) suara yang sah 17.034.562 (58,61%) yang tidak sah 895.046 (3%), yang tidak hadir (Golput) = 11.133.557 (38.31%), (sumber pemerintah) dengan cost sebesar rp.425 milyar. Mudah-mudahan masyarakat Jatim yang telah memberikan kepercayaan dan kewenangannya kepada kandidatnya(pilihannya), masuk dalam kategori Tangan yang diatas (memberi) lebih mulya dari tangan yang dibawah (menerima)”, sehingga pemilih aktif dengan hati yang ichlas dan pikiran yang jernih dalam menentukan pilihannya merupakan tangan-tangan perkasa (T2P) yang dapat menentukan awal sebuah proses mencapai keadilan dan kesejahteraan, sebaliknya yang menerima mandat dari masyarakat akan memndapatkan derajat yang tinggi dalam dua dimensi kehidupan manusia atau mendapatkan sebaliknya ketika telapak tangannya tidak dapat lagi untuk tengkurep kebawah menjadi seorang pemberi bagi harapan konstituantenya, dan pada saat itulah tetesan tinta tergores dalam sejarah kehidupannya., sebagai konsekwensi misteri garis tangan manusia.

Selamat Memilih Masyarakat Jatim, Siapapun pilihan anda, tapi anda telah melakukan sesuatu yang berarti dalam kehidupan berdemokrasi.

Surabaya, 3 Nopember 2008

Jukok.WordPress.com

MUDIK

Sebagai sarana tranformasi ke homogenisasi kultural masyarakat.

Pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah dengan mengekploitasi ruang perkotaan, telah berhasil membangun kota metropolis seperti DKI Jakarta dan kota sekitarnya , menjadi pusat kegiatan ekonomi sehingga kawasan-kawasan perkotaan menjadi pusat orientasi mobilitas penduduk sehari-hari yang akhirnya juga menjadi pusat orientasi budaya, sejak tahun 1980-an model dan gaya bahasa jakartaan telah melanda seluruh negeri Indonesia, sekan telah menjadi trade merk ukuran prestise / ukuran modernisasi masyarakat Indonesia, sampai-sampai orang kampung yang tingggal di Jakarta selama sebulan saja sudah melupakan bahasa daerahnya masing-masing.
Gemerlapnya kehidupan dikota-kota besar telah menarik sebagian besar generasi muda sebagai angkatan kerja baru untuk mencoba mengadu nasib di kota-kota besar, karena didaerah / didesa sudah sulit sekali untuk memperoleh penghasilan yang layak, fenomena seperti ini tidak muncul dengan sendirinya, karena sebagai konsekwensi perubahan manajemen pembangunan pemerintah pada saat itu, yang semula berbasis sumber daya alam karena pengaruh perkembangan ekonomi domestik dan situasi ekonomi-politik internasional, berupaya beralih ke ekonomi yang berbasis pada industri, sehingga semakin memperparah kesenjangan sosial antara kota dan daerah / desa karena kurangnya pemerataan pembangunan, akibatnya dalam kurun waktu 20 tahun (dari th1980-an sampai sekarang) terjadilah aliran penduduk daerah/desa ke wilayah DKI Jakarta serta kota-kota besar lainnya, hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia telah menjadi pusat orientasi kegiatan ekonomi maupun pendidikan.
Perpindahan penduduk ini secara umum dilatarbelakangi 3 jenis kebutuhan sbb :
Melanjutkan Pendidikan ke jenjang lebih tinggi karena didaerahnya belum tersedia ;
Mecari lapangan kerja sesuai dengan keahliannya / pendidikannya;
Ingin keluar dari himpitan ekonomi dari tempat asalnya (pedesaan) namun sebagian besar dari mereka tidakdidukung keahlian tertentu untuk hidup di kota.
Para pendatang ini berbaur dalam kehidupan kota yang keras dan berkarya sesuai dengan bidang dan keahlian masing-masing,. Meskipun komunitas pendatang ini datang dari berbagai daerah yang berlainan kulturnya namun ada kesamaan tradisi pulang kampung/ riyoyoan nang deso/toron/ mudik pada menjelang/setelah hari Lebaran sesudah menjalankan ibadah puasa bulan ramadhan. Ada beberapa rujukan yang menjadi alasan mereka melakukan hal tersebut ;
1. Sebagai ritualisasi adat untuk menghormati sesepuh / leluhur yang masih hidup maupun yang telah meninggal, aktualisasi tersebut diwujudkan dalam tradisi berkumpul sanak keluarga pada hari becik (baik) dengan menyiapkan makan-khusus, kegiatan ini mengandung nilai universal bahwa setiap clan / suku / kerabat menginginkan agar keturunannya tidak punah (ada generasi penerusnya) karena keturunan merupakan unsur yang essensiil serta mutlak adanya. Pada hari lebaran merupakan momentum yang tepat sebagai sarana saling mengetahui perkembangan masing-masing anggota keluarganya, sehingga bagi anggota keluarga yang tidak berkumpul pada hari itu, akan memperoleh sanksi moral yakni tidak / kurang mendapat perhatian dari anggota keluarga lainnya, khususnya apabila yang bersangkutan mempunyai hajatan, kecuali ada alasan yang bisa diterima / dimaafkan.
2. Kebiasaan dari keluarga islam yang telah menjalani puasa ramadhan untuk melakukan sungkem (berjabat sambil mencium tangan) sebagai ritual permintaan maaf atas segala kesalahan dirinya, pada kedua orang tuanya maupun sebagai silaturahmi pada sanak familinya yang lain, untuk menyempurnakan amalan ibadahnya khususnya yang berkaitan dengan hubungan antar manusia / sesama, dalam masyarakat dikenal dengan halal-bihalal atau unjung-unjung pada tetangga kanan kiri rumah maupun sanak kadang yang jauh serta bersiarah kekubur anggota keluarga yang telah wafat.

Mungkin masih ada alasan-alasan lain / latar belakang lain yang menyebabkan orang itu mudik, misalnya liburan sekolah, kewajiban memberi nafkah dihari lebaran dsb, namun 2 (dua) alasan tersebut yang secara umum mempunyai daya dorong yang kuat untuk melakukan pulang kampung kedaerah masing-masing . Tradisi mudik ini kurun waktunya maksimal hanya 15 hari dimulai H-8 s/d H+7 dari hari lebaran, namun dampaknya luar biasa dalam kehidupan masyarakat, mulai dari perputaran uang dan barang kebutuhan, transportasi, kriminalitas, serta kecelakaan berlalulintas di jalan umum dan yang lepas dari pengamatan secara umum adalah transformati cultur masyarakat perkotaan yang diadopsi oleh pemudik secara tidak sengaja semakin memperjelas gambaran informasi media yang selama ini dilihat oleh masyarakat daerah/ desa / kampung, keberhasilan secara materiil ( bandingkan pengeluaran kebutuhan di perkotaan dan penghasilan di desa), yang hanya dibollow up melalui berbagai prilaku konsumerisme dijalanan maupun tempat-tempat rekreasi, meskipun hanya dalam kurun waktu sesaat, namun membekas dalam hati masyarakat daerah/desa/kampung yang menjadi lingkungan sementara bagi pemudik, akan menjadi benih, yang pada suatu saat akan tumbuh subur bagi generasi muda, sehingga secara perlahan akan menggusur cultur masyarakat yang lugu yang menjungjung nilai kebersamaan dan ahklak yang baik akan menjadi cultur yang pragmatis. Meskipun prediksi ini masih memerlukan pembuktian dan penelitian lebih jauh, namun secara umum aliran penduduk yang mobil dari daerah/kampung/desa ke kota besar dan sebaliknya,akan menjadi sarana transformasi kultur dari heterogen ke homogenisasi kultur baru masyarakat Indonesia.
Dengan berlakunya Otonomi daerah, yang bertujuan utama untuk mendekatkan pemerintahan yang memberikan pelayanan kepada masyarakat, agar masyarakat mudah dalam mengakses kesejahteraannya, merupakan suatu kebijakan cerdas dalam menjaga stabilitas ekonomi dan budaya masyarakat Indonesia, sehingga dengan segala kebijakan pemerintah daerah dalam pembangunan akan dapat memperpendek kesenjangan sosial dalam masyarakat daerah/kampung/desa dengan masyarakat kota-kota besar dan yang terpenting dalam proses mencapai kesejahteraannya masyarakat tanpa kehilangan identitas dirinya sebagai masyarakat penyeimbang yang mempunyai nilai luhur dalam pergaulan terhadap sesama. Wallohua’lam.
Minal aizin wal-faizin mohon maaf lahir batin.