Piala Dunia sebagai pentas Sepakbola terbesar dan terpopuler di Dunia telah berakhir , dengan melahirkan Spanyol sebagai juara baru Piala Dunia tahun 2010, kejuaraan ini menarik perhatian masyarakat seluruh Dunia termasuk Pimpinan Negara dan Pemerintahan, sehingga Web site VIVA News.com diakses ribuan orang setiap harinya, selama masa penyelenggaraan Piala Dunia di AFSEL. Negara yang berhasil meraih prestasi tertinggi akan menjadi suatu kebanggaan yang luar biasa bagi sebagian besar warganya.
Ada beberapa alasan Sepak Bola diminati banyak orang , antara lain :
1. Sepakbola merupakan Olahraga yang memadukan unsur-unsur manajemen dan seni olahraga, yakni dengan melibatkan 11 orang yang menguasai SISPOINS (Sistem,Skill,Power, Intelektual dan Strategi) dalam kurun waktu dan aturan tertentu untuk menghasilkan Gol / target.
2. New Bisnis modern , karena telah menjadi hiburan / tontonan antraktif pada waktu senggang dalam masyarakat pekerja / industry, dan dapat dijual ke publik , sehingga yang semula sebagai penyalur Hobby (olahraga biasa) berubah menjadi bidang usaha/ bisnis yang luar biasa.
3. Menjadi lambang kesuksesan bidang Olahraga dan SDM suatu Organisasi / Negara secara international.
Pada Barisan Pemain Sepakbola dilapangan terdapat 3 baris / lini standard dengan pola yang dinamis, ada kesamaan dengan Organisasi Birokrasi antara lain :
1. Barisan Belakang ( Kiper, CenterBek, Bek Kanan.Kiri ) = Dalam Lembaga Birokrasi ada Sekretariat, sebagai Think tanknya (dapurnya Kebijakan), dengan Sekretaris Sebagai Kipernya dan Biro-Biro sebagai barisan Bek ;
2. Barisan tengah sebagai pendukung serangan (barisan gelandang/penghubung/penyuplai bola) = Dalam Birokrasi ada Lembaga Kantor /Badan dan Dinas Teknis , sebagai lembaga pendukung ;
3. Barisan Depan Penyerang (striker, winger ka,ki) = Dalam Birokrasi ada Dinas-Dinas sebagai barisan pelaksana kebijakan.
Dalam permainan sepakbola, Kesebelasan yang kuat, dapat dilihat dari suplai bola antar lini sangat rapi, sinergi ,akurat dan solid sehingga kinerjanya bagaikan suatu system yang mengelinding begitu saja, hal ini dapat terjadi karena pada semua sector/lini , didukung pemain yang menguasai SISPOINS, sehingga kontrol bolanya sangat baik dan penetrasi bola dalam bertahan untuk melakukan serangan balik dapat dilaksanakan dengan cepat ,solid tanpa melakukan suatu pelanggaran (freekick) yang berarti , sehingga mampu menciptakan peluang yang menghasilkan GOL.
apabila setiap Pemain bola dimisalkan sama dengan Satker pada Organisasi / Birokrasi yakni ada barisan belakang, Tengah dan Penyerang, maka konsep kebijakan (Visi, Misi) yang menjadi arah ,tujuan dan sasaran Birokrasi akan dapat dicapai dalam kurun waktu yang terukur pula.
Masalah Birokrasi pada masa lalu antara lain ; Kondisi Lembaga yang gemuk/besar, Kapabilitas SDM terbatas dan sulit dinilai/evaluasi kualitas dan hasil kinerjanya, adanya persaingan yang tidak sehat atau ego sektoral dan masih adanya Sistem L&D (Like & Dislike), serta adanya penumpukan SDM yang potensi pada Satker tertentu menyebabkan munculnya Satker yang miripsebagai pemain cadangan/ tempat parkir pemain. yang mempunyai ciri,ciri antara lain :
1. Dukungan dananya relative Kecil atau dikenal sebagai tempat kering.
2. SDMnya relative terbatas, stafnya banyak yang telah berusia (sulit beradaptasi dengan system computerrisasi), mindset dan idealismenya mengalami stagnan.
3. Dijadikan tempat penampungan karyawan yang tidak mendapat tempat.
4. Kinerja satker lemah, upaya untuk meningkatkan kinerjanya akan menimbulkan banyak resistensi internal. sehingga sebagus apapun seorang pemain yang masuk dalam kelompok tersebut akan frustasi sendiri dan larut dalam ketidakberdayaan, yang akhirnya yang dapat mematikan karir si pemain tsb.
5. Gerbong pengkaderan tidak berjalan, karena sulit bersaing dengan SDM diluar satkernya, sehingga sulit untuk road show ke satker yang lain , ibaratkan menjual pemain yang afkir, ini terjadi khususnya pada setingkat staf.
Problemnya mirip dengan Sepakbola, ketika Manager/ Pelatih melakukan pemilihan jumlah pemain yang dibutuhkan, tentu ada pertimbangan kemanusiaan karena akan ada yang dikorbankan, sama dengan Birokrasi yang melakukan perampingan Satker akan menyebabkan banyak Pegawai yang kehilangan jabatan dan Tupoksinya, sehingga timbullah pengangguran tersembunyi (Disquised unemployment), karena di PNS tidak ada ketentuan PHK. Konsekwensi lainnya yang muncul, terdapat istilah SATKER TEMPAT BUANGAN,
Mencari formulasi Birokrasi yang ideal seperti menyusun Kesebelasan dan Sistem Pembinaan yang efektif sampai saat ini masih menjadi problem yang belum terpecahkan dengan baik oleh Pemerintah , hal yang menjadi kambing hitam dalam pembinaan Pegawai hanya masalah Disiplin Absensi masuk dan apel pagi, dengan pola SIDAK pada hari-hari tertentu untuk menimbulkan rasa takut dan menghindari rekayasa, kemudian hasilnya diumumkan ke public,ini sangat ironi sekali karena masalah disiplin masuk merupakan penyakit kronis (lama) , jika masalah tsb masih dimunculkan ke public maka public akan menganggap Pembinaan PNS puluhan tahun mengalami stagnan (jalan ditempat). ibaratkan seorang manager / pelatih, masih bermasalah dengan waktu latihan, sehingga tidak bisa menjalankan program penguasaan dan praktek SIPOINS di lapangan pada setiap pemain bola, atau satker pada Birokrasi maka tidak akan ada suplai bola yang menggelinding bagaikan system yang dapat menghasilkan Gol, karena hakekatnya masyarakat tidak hanya menginginkan kulit luarnya melainkan isinya atau golnya yang menjadi kemenangan bagi mereka.
Illustrasinya wujud kerjasama antar lini yang tidak optimal pada birokrasi pem. pusat misalnya, penanganan masalah kebijakan pengalihan bahan bakar minyak tanah dengan Elpiji.karena belum adanya kerjasama yang solid dengan perangkat daerah atau masih kuatnya ego sektoral, sehingga yang terjadi bukan suatu permainan yang menarik dengan Gol yang indah melainkan menjadi keprihatinan dan ketakutan , masyarakat selalu bertanya Kapan bisa tersusun Birokrasi seperti Kesebelasan / sepakbola, dengan menguasai luas lapangan sama dengan luas Wilayah NKRI.
Surabaya, Jukok wordpress.com