- A. Sejarah Jawa Timur
Peristiwa dalam Kehidupan di jagad raya bagaikan pengulangan kembali (reinkarnasi) dari suatu peristiwa masa lampau dalam wujud kekinian, fakta –fakta begitu dekat disekeliling kehidupan , matahari terbit kemudian tenggelam dan terus berulang sampai hari yang telah ditentukan, namun sedikit sekali yang mampu melihatnya dengan keyakinan dan kejernihan alam pikiran kecuali atas kehendakNya. Syahdan ketika Raja kartanegara raja Singosari di Jatim mempunyai cita-cita mempersatukan Nusantara, kemudian melakukan perencanaan dan strategi yang matang bersama para menterinya bahkan sampai kepada masalah untuk mengikat hubungan keluarga dengan Raja Kadiri melalui perkawinan, sampai pada akhirnya kedatangan utusan dari negeri China, Kaisar Kubilai khan yang dipermalukan oleh Raja Kartanegara karena minta agar Kartanegara tunduk kepada Pemerintahan Kaisar Kubilai khan sehingga dari kejadian tersebut yang menjadi awal kehancuran Singosari.
Raja Kartanegara menyadari akan reaksi dari Kubilaikhan maka Kartanegara mengirimkan ekspedisi pasukan ke daerah selat malaka (pamalayu) dan Kalimantan untuk menyambut kedatangan pasukan Tatar, sehingga pertahanan di isitina keraton Singosari menjadi lebih longgar.
Dalam ringkas ceritera R.Wijaya sebagai panglima perang sekaligus menantu Raja Kartanegara, baru menyadari kesalahan strateginya ketika keraton singosari telah dihancurkan dari belakang oleh pasukan kadiri yang menjadi sekutunya sekaligus Raja Kadiri juga sebagai besan Kartanegara . Raja Kartenagara akhirnya pralaya dalam pertempuran, Raden Wijaya atas nasehat sahabatnya yang setia melarikan diri ke Sumenep dengan beberapa orang pasukan yang dipimpin putera Madura, dan kemudian minta perlindungan dan restu serta dukungan dari Aria wiraraja , suka duka diperjalanan selalu dapat diatasi karena kesetiaan (loyalitas) dari bawahannya yang selalu setia mengikutinya, sampai akhirnya beliau mendapatkan pengampunan dari Raja Kadiri dan mendapat tanah di hutan Tarik (daerah Mojokerto), yang kemudian diberi nama Majapahit.
Sekitar tahun 1293 M datanglah pasukan Kubilaikhan (tatar) dengan puluhan ribu pasukannya mendarat di pesisir utara jawa timur (Hujung galuh/ Surabaya , tuban, lamongan), momentum inilah yang digunakan oleh R.Wijaya untuk menyusun strategi perang untuk menguasai kembali tahtanya yang hilang, tidak ada aturan yang mengatur kecurangan dalam peperangan, yang ada bagaimana menyusun strategi mencapai kemenangan dalam peperangan, dalam ringkas ceritera R. Wijaya sukses dalam merebut tahtanya kembali dan sukses dalam mengusir tentara asing tatar dari jawa timur , khususnya di wilayah Hujung galuh dan sekitarnya terjadi pertempuran yang hebat antara pasukan R. Wijaya atas dukungan Aria wiaraja dengan pasukan Tatar yang jumlah dan persenjataannya tidak sebanding sehingga tempat tersebut diberikan nama Curabhaya*, atau Surabaya yang dapat diinterpretasikan dengan arti “ Pahlawan perang yang menakutkan karena keberaniannya dalam menghadapi bahaya” ( Pemerintah Kota Surabaya telah menetapkan Hari Jadinya tanggal 31 Mei 1293 M)
- B. Fakta-fakta sejarah .
Bukti-bukti telah terjadi pengulangan peristiwa (reinkarnasi ) dalam kehidupan alam raya dalam wujud kekinian (menurut jamannya) antara lain :
- Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya ketika terjadi pertempuran antara pasukan sekutu yang ingin melucuti sisa pasukan Jepang dengan arek-arek Surabaya yang didukung oleh rakyat daerah sekitarnya dengan persenjataan yang tidak seimbangm subsatansinya mirif dengan peristiwanya pertempuran R. Wijaya dengan pasukan Tatar. Kedua peristiwa tersebut yang telah melanggengkan Kota Surabaya, sebagai Kota Pahlawan dan tanggal 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan oleh Pemerintah, ini terjadi setelah 6,5 abad dari peristiwa lahirnya kota Surabaya, Bagi Jawa Timur ini mengandung makna penting,antara lain :
- Kota Surabaya sebagai ibukota Provinsi, telah dicatat dalam sejarah sebagai Kota Pahlawan ;
- Secara Nasional untuk pertama kalinya (ujian pertama) setelah Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 , di bumi Jawa Timur telah terjadi tonggak sejarah dalam mempertahankan dan menjaga keutuhan NKRI atau 4 Pilar Negara dari bahaya Negara asing (luar).
- Peristiwa 10 November menjadi Basic (dasar) pembangunan karakter bangsa Indonesia khususnya masyarakat Jawa Timur dalam mengawal Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI dengan semangat yang pantang menyerah, kerja keras , bersatu karena keyakinan persamaan cita-cita, toleransi, kebersamaan, kekeluargaan dan yakin atas kekuasaan YME.
- Basic karakter tersebut yang menjadi pondasi awal dalam membangun semangat baru (get new spririt) untuk menyusun program-program pembangunan kedepan bagi masyarakat jawa timur khususnya dan bangsa indonesia pada umumnya.
- Hikmah pada setiap pertempuran untuk memenangkan perang, menginfirasikan bahwa pembangunan Masyarakat adil dan makmur yang menjadi tujuan nasional dan daerah merupakan keseimbangan antara pembangunan non pisik (Karakter, Jati diri) dan pembangunan yang bersifat pisik, sehingga akan menjadi acuan Pola pembangunan jangka panjang dalam RPJM dan RPJMD yang di aplikasikan melalui penyusunan komponen satker yang efisien dan SDM yang berkarakter jawa timur.
- Pengulangan hubungan antar bangsa terjadi dalam wujud kekinian, dalam fakta sejarah bahwa keberhasilan R. Wijaya mengalahkan Raja Kadiri yang telah menghancurkan Singosari, karena didukung dengan adanya hubungan dan kerjasama dengan pasukan Kubilai khan (Tatar)dari negeri China, faktanya yang dapat dicatat dalam sejarah bahwa rencana Pemerintah dan Pemerintah Jawa Timur untuk memajukan daerah yang tertinggal, khususnya di Pulau Madura dengan menrencanakan pembangunan Jembatan yang menghubungkan Bangkalan dan Surabaya, dapat terwujud setelah adanya kerjasama dengan konsorsium dari negeri China. Mungkinkah sub stansinya akan sama, ketika R. Wijaya berhasil mendirikan Kerajaan Majahit , yang kemudian terjadi stagnan dalam pengembangan selanjutnya karena terjadi gejolak dalam pemerintahannya.
- Sisi – sisi gelap bagi sang Pemimpin dapat terjadi pada setiap era generasi karena bersifat kodrati kemanusian ;
- R. Wijaya sebagai Raja Majapahit pertama, tidak mampu melanjutkan pembangunannya karena timbulnya rasa ketidak adilan dalam menyusun pembantu-pembantunya, sehingga muncul ketidak harmonisan yang didasari rasa iri, dengki, fitnah dan berujung pada pemberontakan adipati Ranggalawe dari Tuban , padahal sang adipati merupakan stafnya yang loyal dan tanpa pamrih ketika membantu sang pemimpin melarikan diri ke Sumenep dan tragisnya nasib sang adipati pralaya dalam pasukan majapahit sendiri yang nota bene adalah teman-temannya sendiri dalam seperjuangan.
- Raja kedua Majapahit R. Jaya Negara, telah mewarisi kekacauan, karena sudah menjadi rahasia umum ketika saat perjuangan, sulit untuk mencari prajurit (staf) yang setia dan loyal, namun ketika keberhasilan dicapai, banyak yang merasa berjasa dalam membantu perjuangannya dan meminta balas jasa, betapa sulitnya bagi sang pemimpin untuk memilihnya, sehingga timbul lagi yang namanya persaingan tidak sehat saling fitnah, dendam , dengki ( sisi-sisi gelap dari sifat kemanusian), semata-mata untuk setor muka demi kedudukan, harta dan kekuasaan, sehingga muncullah beberapa pemberontakan dari pembantu (staf) R.Wijaya dalam masa perjuangan antara lain : Pemberontakan Lembu Sora, Nambi dan Kuti , meskipun pada kemudian hari muncul seoarang prajurit (staf) yang benar-benar loyal kepada Negara dan rajanya, prajurit tersebut dikemudian tahun dikenal sebagai Maha patih Gajahmada.
- Sifat manusiawi antara lain , sering lupa , alpa, meremehkan, angkuh, sombong, dengki ,iri , sok pintar, kuasa dan sebagainya yang menggelapkan sisi-sisi terang dari sifat manusiawi, celakanya sifat-sifat tersebut terbawa pada setiap strata kepemimpinan, sehingga tidak sedikit pula yang dapat membawa kehancuran bagi kehidupan manusia , tergantung pada skalanya,
Fakta Sejarah antara lain :
1) Raja Kartanegara telah meremehkan nasehat Patih Raganata , yang sepuh dan telah dipinggirkan dalam jabatannya, sehingga pengiriman ekpedisi besar-besaran tentara Majapahit keluar daerah ( sumatera dan Kalimantan) telah menyebabkan longgarnya pertahanan dalam negeri (keraton) sehingga menyebabkan hancurnya Singosari dari serbuam tentara Kadiri.
2) Di Tingkat Dunia , ketika seorang prajurit Amerika yang bertugas dibagian Radar melihat titik-titik Hitam dalam jumlah banyak bergerak kearah Pearl Harbour melaporkan keatasannya dianggap remeh , maka terjadilah pengeboman pesawat-pesawat Jepang ke Kapal-kapal Amerika yang tidak dapat dicegah.
3) Kehancuran Kota Nagasaki dan Hirosima di awali dari kealpaan , ceroboh dan kesombongan di tingkat strata kepemimpinan , terjadi sebelum Bom atum dijatuhkan Pemerintah Amerika (USA) telah mengultimatum pihak Jepang- yang dijawab dengan pihak Pemerintah Jepang dengan Kata “ MOKUSATSU” yang oleh pihak Amerika diterjemahkan dengan kalimat “ Jangan memberI jawaban sampai keputusan diambil “ yang dikosa katakana dengan kalimat “ NO COMMENT” sehingga dianggap sebagai pengabaian, maka terjadilah peristiwa yang sangat mengerikan dalam sejarah kemanusian. Setelah malapetaka itu terjadi, barulah dibahas kata MOKUSATSU yang mempunyai arti “ KAMI MENTAATI ULTIMATUM TUAN TANPA SYARAT/ KOMENTAR” nasi telah menjadi bubur sebagai akibat dari kealpaan masnusia.
4) Sisi sisi gelap sang Pemimpin terbawa secara kodrati kealam kehidupannya, mulai dari High Leader Middle Leadser dan Lower Leader pada setiap formal leader sehingga banyak program-program yang dirancang baik pada level high leader menjadi kurang bermanfaat bagi rakyatnya, karena unsure sisi-sisi gelap dari pada setiap strata Pimpinan, khususnya ditingkat pelaksana karena lemahnya sistem pengkaderan secara profesional dan ketentuan yang transparan , sehingga tidak dapat memenuhi tuntutan lingkungan strategisnya.
5) Fakta-fakta tersebut telah menjadi rahasia umum pada setiap strata pemerintahan sehingga dapat memunculkan rasa ketidak-adilan terpendam yang dapat menghambat kinerja suatu organisasi pemerintahan. Era telah berubah, masyarakat telah berubah, idealnya rekrut Pimpinan dan pegawai suatu organisasi pemerintahan harus berubah sebagai keseimbangan dengan perubahan lingkungan strategisnya, jika masih selalu bertahan pada pola lama, insya-Alloh akan terjadi suatu perubahan yang radikal oleh generasi berikutnya, karena pada setiap kelahiran baru atau generasi baru dapat disamakan dengan penyerbuan orang-orang biadab kecil jika diabaikan akan terjadi chaos dalam masyarakat (kutipan dari sosiolog). Wollahu a’lam. (Surabaya, 13 Januari 2011. Jukok Word press.com)