Istilah NIKE disini bukan merk produk olahraga terkenal , tapi kepanjangan dari kata “nilai” dan “kejujuran” karena pada era reformasi dan era tanpa batas seakan NIKE telah menjadi barang langka dalam kehidupan.
Nilai dapat diartikan sebagai harga (value), angka, skor, mutu, kwalitas, sifat-sifat yang penting bagi kemanusiaan, nilai bersifat abstrak, sedangkan “jujur” adalah tulus hati, tidak curang, “kejujuran” berarti” ketulusan hati, kelurusan hati, merupakan sifat-sifat manusiawi yang mempunyai nilai tinggi bagi kehidupan masyarakat. Sebenarnya “Nike” merupakan produk lama dari nilai kemanusiaan , tapi karena aktualisasinya mulai langka dalam kehidupan bermasyarakat mungkin juga dalam berbangsa, begitu muncul kepermukaan masyarakat menjadi gempar atau “gumun” kata orang jawa, misalnya peristiwa contek unas oleh siswa-siswa SDN II Gadel di Surabaya dan SDN 06 Pesanggrahan Jakarta Selatan.
Ada fenomena menarik dalam masalah contek unas pada lembaga pendidikan ini, karena di salah satu SMA Surabaya pernah ada uji coba aktualisasi nilai kejujuran, dengan mendirikan “Warung Kejujuran” ternyata tidak sukses, namun masyarakat tidak gempar. Yang membuat sensasi pada contek unas kali ini karena peristiwanya dilakukan secara sistemik yang melibatkan guru pada saat ujian nasional, dan berlanjut pada terlibatnya para orang tua siswa, sehingga mencuat menjadi berita nasional karena menimbulkan konflik antar orang tua siswa. Opini public yang berkembang di media sangat menarik setiap orang untuk berkomentar intinya “ bahwa seolah-olah NIKE ini sudah sangat langka di Negeri ini “ atau setiap orang yang berperilaku jujur akan hancur “ dst.
Opini public tersebut menjadi besar (Big News) , karena momentumnya tepat dikala kondisi sebagian masyarakat, Aparat Pemerintahan, Parpol sangat memperihatinkan.
Padahal hakekatnya masalah “Nike” ini merupakan jatidiri bangsa Indonesia sebagai bangsa yang religius, yang dicerminkan pada sila pertama dalam Pancasila dan implemntasinya dilaksanakan sesuai aqidah masing-masing agamanya antara lain:
- Nike merupakan salah satu hasil dari pembangunan karakter (Character Building) bagi orang mukmin dalam menjalankan ibadah puasa wajib pada setiap tahun di bulan Ramadhan, yang mengandung nilai kejujuran, kesabaran, dan kemanusiaan yang adil dan beradab, kemudian setelah lulus mendapat sertifikat fitrah (suci),dan aktualisasinya akan terlihat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
- “Nike” dapat muncul dari segala aspek kehidupan, bisa datang dari lorong-lorong hati sempit dan gelap karena NIKE berhempitan dengan “ketidak tulusan, ketidak terpujian, kemunafikan, keegoan, kesombongan, keterpaksaan dan sebagainya, nilai-nilai itu bagaikan 2(dua) sisi keeping uang logam yang tidak dibatasi ruang.
Believe it or not , sir.?
Illustrasinya sbb :
- Jalan ceritanya mirif dengan contek SDN II Gadel Surabaya,Pada masa lalu, pernah dikenal suatu keluarga terhormat karena kaya dan pintar juga religius, putra-puterinya di sekolahnya dikenal sebagai murid yang cerdas, dan selalu memperoleh ranking pertama sehingga anak dan keluarganya banyak dikenal oleh kalangan guru dan masyarakat lingkungannya sebagai keluarga dan pintar, Keterpandangan itu membuat menjadi suatu kebanggaan.
Pada saat ujian akhir, atau Unas sekarang, ada berita burung oknum guru telah memberikan lembar jawaban pada siswa-siswanya, hal tersebut sangat merisaukan hati si ibu, karena dikawatirkan anaknya tidak lagi dapat ranking dan nilainya bisa kalah dari teman-temannya, dia akan malu karena sudah terlanjur ceritera di arena ibu- ibu wali murid, bahwa puteranya itu memang pintar dan akan masuk sekolah unggulan tanpa tes. sehingga dia protes pada guru-guru bahwa telah terjadi kebocoran soal ujian, usut punya usut ternyata hanya rumor.
Disnilah konteks NIKE atau munculnya Nike dari si ibu karena didorong oleh rasa kebanggaan berlebihan karena ingin menjadi yang terbaik di masyarakat, bukan lagi muncul dari kepedulian social yang lahir dari ketulusan dan keichlasan hati sebagai implikasi dari nilai religius.
II. Konteks yang lain ketika orang terhormat telah terjerat kasus yang mengancam kehormatannya , muncullah “Nike” nya karena dipaksa oleh alat-alat bukti awal yang meyakinkan , sehingga tidak mampu lagi menyimpan / menjaga rahasia(aib) diri dan lingkungannya .
III. Nike muncul karena alat / mesin , seseorang terpaksa jujur karena absensi masuk menggunakan mesin sidik jari, sehingga tingkat kehadirannya dalam suatu forum sulit dibantah lagi, dsb.
Fenomena yang menarik pada era kompleksitas ini adalah ;
- Sikap masyarakat yang responsip, namun belum terbiasa dengan perilaku cek and recek, sehingga bernilai instan artinya banyak orang tahu tapi sebenarnya tidak tahu , kata orang jawa gumunan dan kagetan yang dapat bermakna mudah terpesona , kagum, mengidola sesuatu tanpa menilainya dengan baik, karena sumber nilai – nilai atau jatidirnya yang luhur tergusur arus global, sehingga cenderung menghasilkan budaya instan dan hibryd ;
- Ada kecenderungan sifat bangga berkomentar pada sebagian masyarakat, seakan jika sudah berani bicara keras, tajam, membuktikan , meyakinkan public, semuanya menjadi selesai dan telah menjadi pahlawan rakyat dan kebenaran, namun justeru rakyat menjadi penonton yang kebingungan.
- Sudah memudarnya nilai-nilai Ketuhanan, terdesak oleh nilai materialistic dan kehidupan yang penuh paradox, misalnya “ Barang siapa yang menutup aib sesama muslim, Alkhalik akan menutup aibnya di akherat. Bukan berarti kebenaran tidak dapat ditegakan , namun justeru aneka komentar itu yang kadang kala telah membentuk opini public yang dapat menggeser hakekat kebenaran itu sendiri.
Bayangkan jika setiap ada peristiwa, tiap individu (kaum intelektual) tak terkendalikan dan semuanya ingin bicara dalam berbagai kesempatan baik melalui media tv, radio dsb, memang eranya kebebasan berpendapat karena menjadi bagian dari HAM.
Kata Bachtiar “Diam adalah pengalaman langsung dalam berlaku adil “ , Nilai-nilai religius ketimuran menekankan “Lebih baik diam jika tidak mampu berkata baik,” dan bahkan nilai kearipan Barat (Eropah) mengartikan Diam,sebagai tidak saling menjajah, atau Diam berarti berbincang dengan baik dan tidak salah paham, sehingga dapat menghasilkan faham yang moderat , jalan tengah. Diam tidak berarti yang dapat berkata baik tidak boleh bicara, namun konteksnya adalah manfaat langsung dari setiap penyelesaian masalah karena sudah menjadi bidang tugasnya.
Secara empiric bahwa penonton lebih pintar berkomentar dari sang pemain , karena wawasannya seperti memandang pegunungan dari jauh yang indah, sejuk dan menyenangkan namun lain lagi bagi sang pendaki gunung, sehingga pendapat yang baik dari penonton, tidak perlu ditanggapi dengan statmen / komentar, melainkan akan menjadi bahan konsep kebijakan yang lebih baik dan bermanfaat bagi semuanya.
Penyelesaian Konflik contekan Unas di Jatim oleh Pak Menteri Diknas mungkin jalan yang terbaik dan realistis, karena tidak perlu merasa ada yang dipermalukan, sudah saatnya semua pihak kembali kepada nilai-nilai kebangsaan Indonesia.
Kesimpulannya bahwa hakekat NIKE ada pada setiap orang, maka dari itu mulailah dari diri sendiri , sebelum menganjurkan orang lain , Jangan keburu mengganggap beriman (baik), sebelum Tuhan mengujinya. Eksistensi “Nike” perlu dukungan nilai kebersamaan dari seluruh komponen bangsa agar “Nike” ter-Implementasi dalam berbagai aspek kehidupan sehingga perlu adanya gerakan revitalisasi penguatan budaya luhur bangsa
Saran , untuk masalah pendidikan :
- Sudah saatnya masalah UNAS dirumuskan kembali secara konphrenship melalui sudut pandang yang berbeda, agar dapat mengakomodir berbagai kepentingan daerah, khususnya untuk tingkat dasar / wajib belajar sembilan tahun.
- Perlu adanya kebijakan materi pembangunan karakter (jatidiri bangsa) beradasarkan 4 (empat) pilar kebangsaan, yang masuk dalam kurikulum pada setiap jenjang pendidikan, baik dalam bentuk penilaian akademik maupun perilaku.
- Perlu adanya evaluasi ulang terhadap materi PKN agar dapat bersinergi dengan materi Agama khususnya pada penguatan akhlaq dalam konsteksnya dengan Semangat Bela Negara (Nasionalisme) dan Cinta tanah air (patriotic)
- Perlu adanya pemetaan jumlah penduduk, wilayah tinggalnya dan potensi sumber daya alamnya ,serta pluralitasnya, minimal dapat dijadikan bahan kebijakan dalam menata pendidikan yang sinergi antara pertumbuhan penduduk (SDM) dan potensi alamnya (SDA) penguatan nilai lokalnya, karena mungkin bermanfaat untuk kebutuhan lapangan kerja dan keahlian yang dibutuhkan pada suatu daerah dan sekaligus mengendalikan dan memotivasi Para Petinggi Pendidikan di daerah agar tidak membuka Sekolah baru /Fakultas atau jurusan yang tidak populer didaerahnya.
- Diharapkan pemecahan masalah pendidikan bangsa tidak hanya dilakukan dari sudut pandang bidang pendidikan belaka, karena maksud dan tujuannya terkait dengan bidang ekonomi, tenaga kerja dsb, sehingga orientasinya juga pada peningkatan indek pembangunan manusianya (HDI), yang dapat melahirkan generasi yang cerdas, beriman dan kreatif dalam memecahkan problem kebangsaan dan cita-cita nasionalnya.
- Hasil dialog dengan perwakilan Mahasiswa, Menwa, BEM, siswa SMAN/Swasta/SMKK/Ponpes pada 4 Korwil Jatim, ketika ditanya Pekerjaan yang disukai setelah lulus, jawaban tertinggi berwira usaha, baru PNS diurutan kedua, tinggal bagaimana sinergi kebijakan pemerintah , khususnya kelembagaan yang membidangi. Semoga Yang Maha Kuasa memberi kekuatan dan perlindungan kepada orang-orang yang selalu ingin berbuat kebajikan terhdap bangsanya. Amin…………
Surabaya, Juni 2011
Jucok word press com.
